Kampanye Membaca, Jadikan Buku sebagai Teman

Melongok Aktivitas Komunitas Perpustakaan Jalanan Semarang

1171
BUDAYA MEMBACA: Komunitas Perpustakaan Jalanan Semarang berkomitmen menyebarkan budaya membaca di kalangan warga Semarang. (DOKUMEN PRIBADI)
BUDAYA MEMBACA: Komunitas Perpustakaan Jalanan Semarang berkomitmen menyebarkan budaya membaca di kalangan warga Semarang. (DOKUMEN PRIBADI)

Sudah tiga tahun lebih, Komunitas Perpustakaan Jalanan Semarang menjalankan misi untuk mengajak masyarakat sadar membaca. Dengan komitmen yang besar, sekarang keberadaannya mulai mendapatkan tempat di hati masyarakat Kota Semarang. Seperti apa?

MIFTAHUL A’LA

“MARI Membaca Buku Gratis!” Begitulah tulisan sederhana yang selalu dibawa oleh sejumlah pemuda yang tergabung dalam Komunitas Perpustakaan Jalanan Semarang. Sementara sejumlah buku digelar di hamparan dengan beralaskan spanduk bekas. Di dekatnya, ada kain terpal biru digunakan sebagai tempat baca sembari lesehan.

Begitulah kegiatan yang digagas untuk terus mengajak masyarakat Kota Semarang gemar membaca. Sudah sejak 2015, Komunitas Perpustakaan Jalanan Semarang ini berdiri. Kini, eksistensinya semakin mendapatkan tempat di hati masyarakat.

“Kami hanya ingin mengajak membaca. Dan semua itu gratis, karena sudah ada buku yang kami siapkan,” kata pegiat Komunitas Perpustakaan Jalanan Semarang, Mohammad Dirgantara kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Hampir setiap ada waktu luang, ia bersama dengan sejumlah rekannya selalu membuka “lapak” buku gratis. Di antaranya, Rizki Adi dan Ferdian Reza, keduanya mahasiswa Universitas Dian Nuswantoro (Udinus); Dimas Prasetyo, mahasiswa Unisbank; Nusantara dan Adam Tuwawan, keduanya mahasiswa Universitas Semarang (USM), serta Rizki Wardana, mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Semarang.

“Semua ini kami lakukan dengan hati tulus tanpa ada imbalan apapun dari masyarakat. Misi kami hanya ingin mengajak masyarakat melek baca. Dan semua kami lakukan karena panggilan hati,” ucapnya.

Taman Pandanaran Semarang, acara car free day (CFD) Jalan Pahlawan menjadi tempat rutin yang digunakan untuk mengajak, mengedukasi, dan membangkitkan budaya membaca. Diakui, tidak mudah, karena banyak masyarakat yang mulai enggan dengan membaca buku. “Ya, kalau pas lagi kegiatan pasti ada yang datang dan membaca. Tapi, ada juga yang hanya melirik dan pergi,” akunya.

Komunitas yang ber-base camp di Jalan Dr Kariadi No 472 Semarang ini sengaja membuat perpustakaan untuk mempermudah anak-anak memilih buku yang disukai. Selain itu, juga untuk mengembangkan budaya literasi. Tidak hanya anak-anak, sasaran komunitas ini juga kalangan muda dan orangtua.

“Tujuannya ya, kami ingin mengajak agar buku menjadi teman, dan bisa mendekatkan pada ilmu pengetahuan. Buku kan salah satu sumber ilmu pengetahuan,” ucap Adam Tuwawan.

Tidak hanya di Semarang, komunitas serupa juga terbentuk di Bandung, Solo, dan Jogjakarta. Rata-rata komunitas ini digagas generasi muda yang memang benar-benar komitmen untuk menyebarkan virus membaca. Semakin banyaknya komunitas ini memang cukup beralasan. “Karena saat kemajuan teknologi yang pesat, nyatanya semakin menggerus budaya memaaca,” katanya.

Data Perpustakaan Nasional, pada 2016, sebanyak 132,7 juta penduduk Indonesia tercatat sebagai pengguna internet, di mana 86,3 juta jiwa di antaranya bermukim di Pulau Jawa. “Tapi praktiknya justru banyak digunakan untuk bermedia sosial. Harusnya digunakan langkah positif untuk membaca yang bermanfaat,” tambah Rizki Wardana.

Berkaca pada itulah, dibutuhkan strategi untuk mengajak anak-anak muda khususnya, untuk terus mempertahankan budaya membaca. Tidak usah terlalu lama, tapi yang penting bagaimana menjaga konsistensi agar bisa membaca setiap hari. “Luangkan waktu satu atau dua jam untuk membaca. Jika itu rutin, jelas akan semakin meningkatkan budaya membaca bagi generasi muda,” katanya. (*/aro)