Tinggi, Kekerasan Terhadap Anak

810
BERIKAN PERTANYAAN : Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) RI Yohana Susana Yembise memberikan pertanyaan kepada anak-anak dengan hadiah perlengkapan sekolah. (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)
BERIKAN PERTANYAAN : Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) RI Yohana Susana Yembise memberikan pertanyaan kepada anak-anak dengan hadiah perlengkapan sekolah. (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)

MAGELANG – Kampanye Bersama Lindungi Anak (Berlian) terus digalakkan oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) RI, Yohana Susana Yembise hingga ke tingkat daerah. Sabtu (2/12) lalu di Gedung Wiworo Wiji Pinilih kompleks Kantor Pemkot Magelang, ratusan pelajar jenjang SD, SMP dan SMA hadir untuk menyemarakkkan acara tersebut.

Yohana mengajak Pemkot Magelang dan masyarakat untuk memerangi kekerasan terhadap perempuan dan anak. Menurutnya, suatu negara disebut sebagai negara maju kalau perempuan, anak-anak, lansia dan penyandang disabilitas ‘sejahtera’. Indikator ini ia dapatkan setelah mengikuti pertemuan PBB, pada September 2017 lalu.

“Kalau mereka belum merasa aman tinggal di suatu negara, berarti negara itu belum maju dan belum bebas dari kemiskinan. Sekarang, hal ini jadi perhatian dunia,” katanya.

Angka kekerasan terhadap perempuan dan anak di Indonesia masih tinggi. Namun ia tak membeberkan berapa jumlahnya. Meski begitu, Indonesia masuk dalam 10 negara besar yang ditunjuk PBB menjadi proyek percontohan menuju planet 50:50 di tahun 2030 mendatang. Ini pula menjadi bonus demografi Indonesia. “Posisi perempuan akan sama dengan laki-laki, dan anak-anak usia sekarang yang akan mengisinya,” ujarnya.

Wakil Wali Kota Magelang Windarti Agustina mengatakan, Kota Magelang berkomitmen untuk zero tolerance pada kekerasan terhadap perempuan dan anak dengan program-program yang mampu menghentikan tindakan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) itu. “Tahun ini, kita membentuk Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD),” tutur Windarti.

Pemkot Magelang juga mengeluarkan kebijakan terkait perempuan dana anak yang telah dituangkan dalam Perda No 10 Tahun 2012 Tentang Pengarusutamaan Gender, Perda No 11 Tahun 2012 Tentang Penyelenggaraan Perlindungan Perempuan dan Anak Korban Kekerasan, Perda No 12 Tahun 2012 Tentang Pencegahan dan Penanganan Korban Perdagangan Orang serta Perda Nomor 13 Tahun 2016 Tentang Perlindungan Anak. “Saat ini, rasio kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di Kota Magelang mengalami penurunan.”

Pada kesempatan ini pula, Yohana menyerahkan bantuan Motor Perlindungan Perempuan dan Anak (Torlin) untuk Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kota Magelang yang diterima langsung oleh Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP4KB) Kota Magelang, Wulandari. Kemudian Windarti mencanangkan seluruh Rukun Warga (RW) di Kota Magelang yang berjumlah 196 menjadi RW Ramah Anak. (put/ton)