Ajak Masyarakat Menjaga dan Peduli Lansia

Mengintip Aktivitas Komunitas Jalan Pelan Semarang

1733
PEDULI LANSIA: Anggota Komunitas Jalan Pelan bersama pengurus Panti Wreda Harapan Ibu, Ngaliyan. (Dokumentasi komunitas jalan pelan)
PEDULI LANSIA: Anggota Komunitas Jalan Pelan bersama pengurus Panti Wreda Harapan Ibu, Ngaliyan. (Dokumentasi komunitas jalan pelan)

Sejumlah mahasiswa Psikologi Universitas Negeri Semarang (UNNES) membentuk Komunitas Jalan Pelan. Mereka mengajak masyarakat menjaga dan peduli dengan para lansia (lanjut usia). Seperti apa?

NIKEN PRAHASTIWI

KOMUNITAS Jalan Pelan belum setahun berdiri. Tepatnya, pada 24 Maret 2017. Komunitas ini didirikan oleh Muhammad Ikhsanul Fikri, 21,mahasiswa Psikologi UNNES. Namanya yang unik ini merupakan kepanjangan dari Jaga Lansia Peduli Lansia. Ini sesuai tujuan Komunitas Jalan Pelan, yakni untuk mengayomi para lansia, dan berharap komunitas ini dapat memperbaiki kondisi psikologi para lansia.

Saat ini, ada sekitar 20 orang yang bergabung dalam kepengurusan Komunitas Jalan Pelan, Semuanya merupakan mahasiswa Psikologi UNNES. Namun relawan yang bergabung dalam setiap acara bisa mencapai 50 orang.

Sebelum komunitas ini berdiri, sejumlah mahasiswa Psikologi UNNES melakukan survei ke beberapa panti jompo di Kota Semarang. Kemudian mereka memutuskan sebuah panti yang berada di Ngaliyan sebagai lokasi melaksanakan kegiatan sosial, yakni Panti Wreda Harapan Ibu. Panti tersebut dipilih karena mereka prihatin melihat kondisi para lansia penghuni panti wreda tersebut.

“Selama ini, sudah banyak yang memberikan donasi makanan, barang dan sebagainya kepada lansia di panti tersebut. Tetapi belum banyak yang memberikan pendampingan psikologis. Sebab, para lansia ini berada di suatu tempat yang di mana meraka itu terpaksa, jauh dari keluarga dan sanak saudara,” kata salah seorang anggota Komunitas Jalan Pelan, Adi, kepada Jawa Pos Radar Semarang, Jumat (2/12).

Bagi Adi, para lansia di Panti Wreda Harapan Ibu layak mendapatkan pendampingan, baik pendampingan psikologi maupun pendampingan fisik dan yang lain.

“Kami ingin membuat bagaimana para lansia ini merasa punya cucu, merasa punya anak. Sehingga kami di sana ada sesi terapi psikologis untuk para lansia. Kami datangi setiap tempat tidur, didampingi satu-dua anak,” ujarnya.

Sejauh ini, kata Adi, Komunitas Jalan Pelan sudah melaksanakan empat kegiatan. Salah satunya berkerja sama dengan Komunitas STMJ Semarang. Seluruh kegiatan dilaksanakan di Panti Wreda Harapan Ibu yang merupakan fokus untuk kegiatan mereka.

Karena Komunitas Jalan Pelan merupakan komunitas non profit, dalam melaksanakan kegiatan sosialnya mereka menggunakan dana pribadi yang diperoleh dari uang kas. Dalam seminggu, setiap anggota iuran Rp 5 ribu. “Ke depannya kami akan menggali dana dengan mengajukan proposal ke beberapa perusahaan,” kata cowok 21 tahun ini.

Diakui, masalah dana kerap menjadi hambatan komunitas sosial ini. Juga kesibukan sebagai mahasiswa dan kegiatan organisasi lain. Sehingga saat ini, Komunitas Jalan Pelan hanya bisa melaksanakan kegiatan untuk para lansia setidaknya satu kali dalam sebulan. Namun untuk sekadar main dan berjumpa dengan para lansia, mereka sering datang ke panti.

Dalam sebuah organisasi tentu saja ada suka dukanya. Devy, anggota Komunitas Jalan Pelan lainnya mengungkapkan rasa senangnya selama bergabung dengan komunitas ini. “Di Jalan Pelan ini kita melakukan sesuatu tanpa paksaan. Di sana kita bisa melihat mbah-mbahnya senyum. Mungkin itu yang membuat kami senang,” tuturnya.

Hayyun, salah satu pengurus Komunitas Jalan Pelan mengatakan, saat Hari Ibu 22 Desember mendatang, komunitasnya akan melaksanakan kegiatan lagi. Sedangkan agenda besar lainnya yang akan dilaksanakan oleh komunitas ini bertepatan dengan Hari Lansia Nasional pada Mei 2018 mendatang.

Ke depannya, Komunitas Jalan Pelan ingin melebarkan sayapnya agar bisa terus berkembang. Untuk mengembangkan sayapnya itu, Adi ingin menggandeng organisasi lainnya. “Kami juga ingin menggandeng organisasi-organisasi lainnya, tentu semuanya untuk kepentingan para lansia yang kami jaga. Kami ingin komunitas ini terus berkembang. Saat ini, mungkin kami hanya dari mahasiswa psikologi UNNES, namun ke depannya bisa lebih berkembang. Kami butuh anak-anak hukum yang bisa memberikan perlindungan atau pertimbangan-pertimbangan hukum para lansia. Kami butuh anak ekonomi yang kemudian bisa mengembangkan ekonominya. Kami butuh anak kedokteran untuk memantau kesehatan lansia, dan lainnya” ungkapnya. (*/aro)