Konsumsi Pil PCC, Dikira Kesurupan

785
BIKIN GILA: Obat PCC yang bisa menyebabkan gangguan mental jika dikonsumsi berlebihan (ISTIMEWA).
BIKIN GILA: Obat PCC yang bisa menyebabkan gangguan mental jika dikonsumsi berlebihan (ISTIMEWA).

PIL PCC ternyata sudah beredar luas di kalangan siswa sekolah, termasuk siswa SMP di Kota Semarang. Salah satu orangtua siswa yang anaknya pernah mengonsumsi pil PCC hingga dirawat di rumah sakit, Efra, warga Tugu, Semarang, menuturkan, ia mengetahui anaknya menenggak pil PCC setelah melihat tingkah laku anaknya tidak wajar, seperti orang gila. Peristiwa itu terjadi pada 13 Oktober 2017 lalu.

“Anak saya masih berusia 14 tahun. Masih kelas VIII SMP. Sepulang bermain bersama teman-temannya malam itu, anak kedua saya ini minta dibeliin roti. Anehnya, roti itu tidak dimakan, tapi dimasukan ke kipas angin. Sandal dipakai dolanan seperti handphone, kepalanya juga dibentur-benturkan,” ungkap Efra kepada Jawa Pos Radar Semarang, Selasa (5/12) kemarin.

Melihat kejanggalan pada anaknya itu, Efra menjadi panik. Saat itu, ia menduga anaknya kesurupan. Bahkan, ia sempat meminta bantuan kenalannya yang bisa mengobati orang terkena hal-hal gaib.

“Saya kira kesurupan. Kemudian saya bawa ke orang pintar pukul 02.00 malam di daerah Mijen. Tapi, sampai di tempat yang dimaksud, dikatakan kalau anak saya tidak kemasukan hal-hal gaib. Hal ini semakin membuat saya panik,” ceritanya.

“Di tempat orang pintar itu, anak saya dikasih banyu (air), saya tunggu 30 menit tidak ada perkembangan. Saya bilang ke teman, anak ini tidak kemasukan barang halus. Saya ngobrol-ngobrol sebentar sama teman saya, ada kecurigaan anak saya mengonsumsi pil atau barang-barang lain,” bebernya.

Tak ingin terjadi apa-apa dengan anaknya, Efra langsung membawa anaknya ke Rumah Saki Tugurejo sekitar pukul 03.00. Sampai di rumah sakit, dilakukan diagnosa kejiwaan dan dikasih obat penenang dengan dosis lebih tinggi.

“Dikasih penenang 1 dosis itu hanya menteleng, padahal kalau orang dewasa dikasih setengah (dosis) pasti sudah anteng tidur. Tapi, anak saya mendelik, gak bisa tidur, ngomnyang sak karepe dewe (bicara sendiri ngelantur),” katanya.

Demi keselamatan, akhirnya Efra mengikat kedua kaki anaknya tersebut. Selanjutnya dibawa ke ruang rawat inap untuk menjalani perawatan lebih lanjut. “D isini masih ngomyang belum bisa tidur. Baru bisa tidur itu pukul 11.00 siang (Sabtu). Setelah itu, pukul 14.00 baru mulai sadar bisa nangis,” terangnya.

Kasus anaknya itu baru terkuak keesokharinya atau Minggu (15/10). Itu setelah delapan teman anaknya, bermain di rumahnya. Salah satu teman korban mengaku membawa 10 butir pil warna putih yang diduga pil PCC.

“Jadi, ada 8 anak, termasuk dua anak saya saat bermain dikasih satu-satu. Kemudian anak saya yang besar tidak diminum, tapi dibuang. Lha anak saya yang kecil ini dikasih temene minuman es teh, gak tahu diminum anak saya,” terangnya.

Tak hanya anaknya saja, tiga bocah lain yang ikut menjadi korban keganasan pil PCC juga baru bisa ditemukan keluarganya beberapa hari setelah terkena pil PCC. “Tiga korban lainnya itu ketemune Sabtu malam. Kendaraane (sepeda motor) hilang. Minumnya di Jalan Pemuda. Waktu kumpul di rumah saya ya ngakunya baru pertama kali dibawa,” katanya.

Dari pengakuan teman anaknya, pil setan itu dibeli dari seseorang di daerah Tugu, Semarang. Pil tersebut dibeli seharga Rp 150 ribu mendapat 10 butir. “Bilangnya beli 10 harganya Rp 150 ribu, Pilnya warna putih. Beli sama seseorang di daerah Tugu. Sempat urusan sama polisi juga, tapi mengingat dia masih kecil ya akhirnya kita selesaikan dengan cara kekeluargaan. Ya, kasihan juga,” ujarnya.

Atas kejadian ini, Efra lebih ketat mengawasi anaknya, termasuk teman pergaulannya. Selain itu, pihaknya juga berharap kepada aparat kepolisian terus memberantas peredaran narkoba di Kota Semarang. “Antisipasi ke anak-anak, sudah saya warning ndak boleh keluar malem,” tegasnya.

Pihaknya juga meminta kepada pemerintah untuk lebih selektif dalam penggunaan kartu BPJS. Menurutnya, pada saat anaknya menjadi korban pil PCC, tidak bisa menggunakan kartu BPJS. “Pemerintah harus bisa selektif, pemakai itu korban. Ibarate narkoba aja rehabilitasi dibiayai negara. Tapi ini tidak ada kepedulian,” katanya. (mha/aro)