Lagu Nasional Versus Dangdut Koplo

1126
Oleh: Puji Roostiandyah SPd SD
Oleh: Puji Roostiandyah SPd SD

SAAT peringatan Hari Guru Nasional 25 November lalu, berbagai kegiatan diadakan untuk memeriahkannya, terutama kegiatan yang pesertanya melibatkan guru, karyawan, maupun siswa. Banyak Dinas Pendidikan baik di tingkat kecamatan maupun kabupaten yang mengadakan acara jalan santai. Sepertinya kegiatan jalan santai ini merupakan suatu agenda rutin. Supaya menarik, di sela acara jalan santai disediakan doorprize dan menggelar panggung gembira dengan menyajikan lagu-lagu yang lagi hits. Peserta larut dalam kemeriahan. Semua bisa mengekspresikan rasa dengan mengikuti irama musik yang gembira.

Sambil duduk setelah jalan santai dan menyimak pembawa acara yang memanggil nomor per nomor yang diundi untuk mendapatkan doorprize, penulis memperhatikan siswa yang lalu lalang. Tak selang kemudian disajikan sebuah lagu dengan genre dangdut koplo yang berjudul Bojoku Galak. Sontak saja, hampir semua yang hadir mengikuti alunan musik. Bahkan, ada beberapa siswa yang beranjak naik ke panggung, dan ikut berduet dengan disertai joget-joget khas dangdut yang penuh dengan goyangan.

Tak mau kalah dengan teman-temannya yang berhasil naik panggung, ada sekelompok anak SMP yang melakukan gerakan-gerakan yang rancak dan terorganisir dengan seorang dance leader. Saking hebohnya mereka menari sambil bernyanyi, mendorong penulis untuk mengambil gambar mereka dan merekamnya. Tahu kalau gerakan mereka diabadikan, mereka semakin bersemangat. Bahkan seorang bapak polisi ikut bergabung di tengah-tengah mereka untuk ikut berjoget.

Sorak-sorai penonton semakin ramai. Seolah mereka mengikuti konser. Lupa deh dengan PR (pekerjaan rumah), tugas yang belum terselesaikan, atau besok pagi mesti ulangan Matematika. Bila ada beberapa siswa yang hanya duduk-duduk tidak ikut larut dengan hebohnya lagu tersebut, itu hanya sebagian kecil saja. Mungkin saja mereka malu untuk ikut berjoget, karena mereka juga terlihat senyum-senyum menyaksikan teman-teman mereka.

Melihat pemandangan seperti itu, penulis jadi berpikir. Kenapa generasi sekarang lebih mudah untuk menghapalkan lagu-lagu dangdut, apalagi yang dikemas secara koplo, dibanding untuk menghapalkan lagu-lagu nasional yang sarat dengan pesan dan cinta tanah air? Salahkah ini? Tak bisa dipungkiri bila masyarakat kita lebih akrab telinganya dengan musik dangdut koplo. Sebab, setiap hari, jam, menit, bahkan detik selalu disuguhi musik ini yang bisa didengar dari radio maupun stasiun televisi yang khusus menyajikan lagu-lagu dangdut. Dan dengan mudahnya bisa diakses dari Youtube kapanpun dibutuhkan. Dari penyajian dan bentuk aransemen musik dangdut yang dimainkan dari masa ke masa terdapat perbedaan.

Walaupun lagu nasional bisa dan banyak dijumpai di Youtube, namun kenyataannya anak-anak banyak yang kurang antusias untuk mengaksesnya. Hal ini merupakan pekerjaan rumah bagi kita sebagai seorang pendidik untuk bisa mengajak anak didik lebih mencintai lagu-lagu nasional sebagai pembentuk dalam pendidikan karakter. Salah satunya dengan mengajarkan bernyanyi dan memperdengarkan lagu anak-anak setiap pagi sebelum pembelajaran dimulai. Dan tak kalah pentingnya, peran dari para pemangku kepentingan di Indonesia, mulai pemerintah, masyarakat, dan pelaku dunia hiburan supaya kembali mempopulerkan lagu-lagu nasional. Karena tak bisa dipungkiri selama ini kasus kekerasan di kalangan anak-anak banyak dipengaruhi oleh tayangan audio visual, termasuk musik. (*/aro)

Guru SD Negeri Pondowan 02, Tayu, Pati