Prihatin dengan Gawai, Dirikan Kampung Baca Umi

635
JENDELA DUNIA : Wakil Wali Kota Magelang Windarti Agustina membaca salah satu buku koleksi Kampung Baca Umi di Kedungsari Magelang Utara, Selasa (5/12). (Agus Hadianto/Jawa Pos Radar Kedu)
JENDELA DUNIA : Wakil Wali Kota Magelang Windarti Agustina membaca salah satu buku koleksi Kampung Baca Umi di Kedungsari Magelang Utara, Selasa (5/12). (Agus Hadianto/Jawa Pos Radar Kedu)

MAGELANG– Semakin pesatnya perkembangan teknologi, khususnya gawai di kalangan anak-anak, membuat prihatin Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah (PRA) Kedungsari Kota Magelang. Bentuk keprihatinan tersebut diwujudkan dengan mendirikan Kampung Baca Umi untuk menumbuhkan minat baca anak-anak.

“Setelah melalui perencanaan yang matang, akhirnya diputuskan membuat kampung baca. Kita pakai salah satu ruang di rumah milik ibu Umi Salamah yang biasa digunakan untuk tempat mengaji anak-anak dan warga. Kita hadirkan 500-an judul buku dengan beragam bidang. Buku ini dari sumbangan banyak pihak,” kata Faridah Bendahara PRA ‘Aisyiyah Kedungsari Faridah Wahyuningsih di sela peresmian, Selasa (5/12).

Wakil Wali Kota Magelang Windarti Agustina mengungkapkan kekagumannya kepada PRA ‘Aisyiyah Kedungsari karena memiliki ide mendirikan Kampung Baca Umi ini. Ibu-ibu Aisyiyah dinilai memiliki andil yang luar biasa pada perkembangan anak-anak dengan adanya kampung baca ini.

“Kampung baca ini bisa jadi tempat anak-anak belajar banyak hal dari membaca buku dan yang pasti meningkatkan minat bacanya. Saya harap bisa jadi contoh bagi kampung lainnya. Kami ingin kampung baca ini bisa menyebar di seluruh Kota Magelang,” kata Windarti.

Windarti mengatakan, sebenarnya minat baca anak-anak di Kota Magelang masih bagus. Hal ini, terbukti dari banyaknya anak-anak yang berprestasi di bidang akademik. Meski begitu, Windarti mengingatkan, perlu diwaspadai adanya virus malas membaca akibat berkembangnya teknologi gawai yang makin pesat.

“Gawai bisa berbahaya kalau kita tidak bisa mengontrolnya, terutama pada anak-anak. Saya sarankan, anak-anak jangan dekat-dekat dulu dengan gawai. Kalau kita tidak bisa memantaunya, anak-anak bisa saja menyalahgunakannya.”

Windarti pun menceritakan, anaknya yang saat ini duduk di bangku kelas dua SMP tidak dibekali dengan gawai. Kalaupun pegang gawai, selalu mendapat pengawasan sehingga apa yang dilakukan anak dapat diketahui.

“Ada positifnya juga kemajuan teknologi, tapi sebaiknya arahkan anak-anak untuk gemar membaca buku. Kalau anak lebih suka mencari bantuan di Google, mari sekarang kita ajak anak untuk mencarinya di buku,” tandas Windarti.

Peresmian Kampung Baca Umi juga dimeriahkan dengan penampilan beragam jenis pentas seni oleh anak-anak TK dan SD di wilayah Kedungsari. Foto-foto jurnalistik karya anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Magelang juga ikut dipamerkan. (cr3/ton)