Bermain Peran,Tingkatkan Kemampuan Berbahasa Jawa

1071
Oleh: Eko Kasmiyatun SPd
Oleh: Eko Kasmiyatun SPd

PENGGUNAAN Bahasa Jawa di kalangan pelajar pada saat ini banyak yang kurang memperhatikan unggah-ungguh. Mereka berbicara dengan rekan seusianya maupun kepada yang lebih tua umurnya tidak membedakan, yakni penggunaan ragam ngoko.

Beberapa hal yang menjadi penyebab menurunnya kemampuan bicara Bahasa Jawa siswa, antara lain: Pertama, pengaruh arus modernisasi. Kedua, tuntutan penggunaan bahasa nasional maupun bahasa internasional. Ketiga, lingkungan pergaulan siswa baik dalam keluarga, sekolah, maupun masyarakat kurang mendukung, dan keempat, pembelajaran bahasa di sekolah yang belum maksimal.

Pemilihan metode bermain peran dalam peningkatan kemampuan berbahasa Jawa karena kecenderungan siswa masih terpola untuk bermain. Siswa lebih cepat memahami suatu materi dengan cara permainan dari pada penjelasan oleh guru. Sehingga dengan metode bermain peran, sangat membantu siswa dalam belajar.

Beberapa alasan penggunaan metode pembelajaran bermain peran dalam penelitian tindakan kelas ini, di antaranya: Pertama, metode bermain peran adalah cara pembelajaran dengan permainan yang efektif. Kedua, meningkatkan kemampuan kerja sama dengan kelompok. Ketiga, diharapkan dengan metode ini minat dalam belajar juga akan meningkat.

Teknik bermain peran adalah cara pembelajaran dengan permainan yang efektif, meningkatkan kemampuan kerja sama dengan kelompok, dan diharapkan dengan metode ini, minat, motivasi, peran serta siswa dalam belajar juga akan meningkat.

Langkah-langkah pelaksanaan teknik bermain peran, meliputi: Pertama, guru menyusun/menyiapkan skema yang akan ditampilkan. Kedua, menunjukkan beberapa siswa untuk mempelajari skenario dua hari sebelum kegiatan belajar mengajar. Ketiga, guru membentuk kelompok dengan beberapa anggota. Keempat, memberikan penjelasan tentang tujuan yang ingin dicapai dalam kegiatan belajar mengajar (KBM). Kelima, memanggil para siswa yang sudah ditunjuk untuk memerankan skenario yang sudah disiapkan. Keenam, masing siswa duduk dikelompoknya sambil memperhatikan skenario yang sedang diperagakan. Ketujuh, setelah selesai dipentaskan, masing-masing siswa diberikan kertas sebagai lembar kerja untuk membahas. Kedelapan, masing-masing kelompok menyampaikan hasil kesimpulannya. Kesembilan, guru memberikan kesimpulan secara umum, dan evaluasi.

Metode pembelajaran bermain peran lebih banyak menuntut aktivitas siswa dalam pembelajaran. Di samping itu metode pembelajaran bermain peran adalah metode pembelajaran yang dilakukan dengan cara permainan kelompok. Metode bermain peran untuk proses pembelajaran kemampuan berbahasa sesuai dengan kompetensi dasar yang diharapkan, juga bermuatan nilai-nilai pendidikan karakter. Nilai-nilai pendidikan karakter yang akan diterapkan dalam model pembelajaran bermain peran ini didasarkan pada 18 nilai yang ditetapkan oleh Kemdiknas. Secara ekplisit nilai karakter: kerja sama, komunikatif, dan percaya diri.