Kandangnya Bersusun, Diberi Pakan Fermentasi

Kembangkan Homestay untuk Domba Potong

1066
MURAH MERIAH: Pemilik domba sedang melihat domba miliknya yang dimasukkan dalam Homestay Karantina Sumber Laba Jasa Penggemukan Domba Potong (Hotel Jamu Si Ompong) hasil karya Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKMK) Untidar Magelang. (FISIELA FIKA ARUNIA FOR JP RADAR KEDU)
MURAH MERIAH: Pemilik domba sedang melihat domba miliknya yang dimasukkan dalam Homestay Karantina Sumber Laba Jasa Penggemukan Domba Potong (Hotel Jamu Si Ompong) hasil karya Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKMK) Untidar Magelang. (FISIELA FIKA ARUNIA FOR JP RADAR KEDU)

Lima mahasiswa Universitas Tidar (Untidar) Magelang membuat inovasi menarik. Mereka membuat homestay khusus bagi domba-domba potong. Seperti apa?

AGUS HADIANTO

MASYARAKAT maupun peternak kambing biasanya memelihara domba maupun kambing dengan sistem kandang biasa. Sehingga rata-rata kambing menjadi tidak berkembang dan kurang gemuk.

Peluang inilah yang ditangkap oleh lima mahasiswa Universitas Tidar (Untidar). Mereka berinovasi, membuat usaha penggemukan domba. Konsepnya, homestay. Tepatnya, Homestay Karantina Sumber Laba Jasa Penggemukan Domba Potong (Hotel Jamu SI Ompong). Kelima mahasiswa lantas menuangkan ide homestay khusus domba dalam Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKMK) Homestay Karantina Sumber Laba Jasa Penggemukan Domba Potong.

PKMK ini merupakan salah satu dari 12 PKM Universitas Tidar yang lolos dan didanai Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi. Kelima mahasiswa tersebut adalah Fisiela Fikta Arunia (Faperta), Oke Amar Saputa (Faperta), Dewi Setya Lestari (FKIP), Nurul Delphi Anjani (Faperta), dan Selvina Nurafni (FKIP).

Ketua Tim PKMK, Fisiela Fikta Arunia, ditemui di kampus Untidar, Kamis (7/12) kemarin, memaparkan bahwa jasa homestay penggemukan domba terletak di Dusun Beran, Kecamatan Kepil, Kabupaten Wonosobo. Wonosobo dipilih karena salah satu sentra produksi sayur dan padi di Jawa Tengah. Sehingga mendukung tetap tersedianya makanan bagi domba-domba yang dikarantina. Apa yang menarik dari sistem homestay domba? Fisiela menjelaskan, domba dikarantina di kandang seluas 7 x 8 meter per segi. Kandang didirikan di atas kolam nila, dengan sistem kandang susun. Ukuran per kandang, 1,5 x 2 meter per segi. Masing-masing kandang berkapasitas 4-5 ekor domba. Total ada 7 kandang.

“Lalu, dibuat juga terminal pakan fermentasi yang terletak sejajar dengan kandang domba. Letaknya, di sebelah kolam ikan nila. Terminal pakan ini berukuran 3 x 4 meter per segi dengan 3 subruang. Perawatan dan kebersihan kandang dilakukan setiap minggu sekali dan kotoran domba digunakan sebagai pakan nila,” beber Fisiela. Fisiela menjelaskan, homestay menerima domba anakan berusia 7-9 bulan, dengan berat rata-rata 12-20 kg per ekor. Domba-domba itu dikarantina selama 100 hari (3 bulan). Selama karantina, domba diberi pakan fermentasi per hari 10-20 persen dari berat tubuhnya. Pakan juga ditambah dengan konsentrat sebesar 1-2 persen dari bobot domba.

“Setiap hari, perkembangan domba akan diamati dengan seksama dan dilakukan penimbangan 1 minggu sekali. Pakan yang kami gunakan terbuat dari jerami, rumput segar, batang pisang, limbah sayur, EM4, molase garam, dan ampas tahu yang kami fermentasi,” jelas Fisiela. Pakan fermentasi, sambung Fisiela, sengaja dipilih karena memiliki kelebihan dibanding rumput segar. “Pakan fermentasi membantu memperbaiki sistem pencernaan hewan, meningkatkan beran badan, menambah nafsu makan, meningkatkan daya tahan tubuh, serta menjaga kekebalan tubuh hewan dari penyakit. Kotoran yang dikeluarkan hewan juga tidak terlalu bau.”

Keunggulan dari jasa homestay domba potong ini, menurut Fisiela, pemilik domba tidak perlu bersusah payah beternak domba. Mereka hanya membayar Rp. 6.500 per hari untuk satu ekor domba. Setelah 3 bulan, domba sudah bisa dipanen alias dipotong. “Harga anakan domba sekitar Rp 1.250.000. Setelah 3 bulan dikarantina, harga jula domba bisa menjadi Rp 2.200.000. Setelah dipotong biaya karantina, pemilik domba minimal mendapatkan keuntungan Rp 300.000 per ekor.”

Jasa homestay ini, sambung Fisiela, juga menyerap limbah organik pertanian. Sehingga membuka peluang tambahan pendapatan bagi yang ingin menjual limbah organik pertanian. Limbah organik bisa digunakan sebagai bahan pakan fermentasi domba. Gadis berjilbab itu mengklaim, inovasi ini membuka wawasan para peternak maupun warga untuk mengolah limbah menjadi sesuatu yang bernilai ekonomis. Serta menyadarkan para peternak untuk menciptakan lingkungan yang sehat.

Saat ini jasa homestay sedang mengkarantina 7 ekor domba. “Ada yang masuk baru 3 minggu, ada yang sudah bunting, ada juga yang sudah 2 bulan.” Jika pemilik domba ingin menjadikan dombanya sebagai indukan, jasa penggemukan domba  ini juga bisa menerimanya. “Kalau ada domba yang sudah mau panen, tapi mau dijadikan indukan, kami bisa karantina lagi.” (*/isk)