Berdayakan Lewat Zakat dan Wakaf

625
SEMINAR : FEBI UIN Walisongo Semarang bekerjasama dengan Universiti Teknik Mara, Malaya (UTM), Malaysia, menggelar seminar Islamic Philanthropy, Jumat (8/12) kemarin. (IST)
SEMINAR : FEBI UIN Walisongo Semarang bekerjasama dengan Universiti Teknik Mara, Malaya (UTM), Malaysia, menggelar seminar Islamic Philanthropy, Jumat (8/12) kemarin. (IST)

SEMARANG-Hutang bukan satu-satunya jalan yang baik. Karena itu, umat Islam membutuhkan instrument pemberdayaan Islam melalui zakat dan wakaf.

Hal tersebut disampaikan Dosen Fakultas Ekonomi Bisnis Islam (FEBI) UIN Walisongo Semarang Dr H Ahmad Furqon LC MA dalam seminar Islamic Philanthropy Peran Wakaf dalam Pengembangan Ekonomi Umat di Malaysia dan Indonesia yang dilaksanakan di ruang sidang rektorat lantai 3, kampus 1 UIN Walisongo Semarang, Jumat (8/12) kemarin. Seminar yang diselenggarakan oleh FEBI UIN Walisongo Semarang bekerjasama dengan Universiti Teknik Mara, Malaya (UTM), Malaysia, mengundang juga Dosen UTM, Prof Dr Abdul Halim Molid Noor.

Menurutnya, wakaf tanah 90 persen tidak produktif. Sedangkan wakaf uang di Indonesia, belum banyak. Sedangkan wakaf produktif, seperti wakaf hotel, SPBU,  rumah makan (perekonomian) dan wakaf pertanian.

“Untuk meningkatkan perekomnomian umat melalui zakat dan wakaf , harus dibarengi dengan peningkatan kualitas SDM umat sehingga dapat bekerja cerdas dan meningkatkan kesehatan umat,” jelasnya.
Prof Abdul Halim Molid menyoroti bahwa di Indonesia, wakaf hanya ditujukan untuk pemakaman/kuburan, masjid dan sebagainya. Harusnya, untuk memperkuat sektor filantropi Islam dan membawanya ke arus ekonomi utama yaitu dengan cara memprioritaskan lembaga Islamic Philanthropy (IP) sebagai institusi inti untuk keadilan sosial termasuk yayasan swasta dalam agenda Asean Economic Community (AEC). “Terlepas dari fokusnya pada isu ekonomi, AEC juga mengalokasikan cukup banyak porsi untuk mengembangkan komunitas filantropi. Untuk mengembangkan kemandirian wakaf di negara ASEAN, perlu adanya pendirian bank wakaf,” jelas Prof Abdul Halim Molid. (*/ida)