Harga Beras Naik Jelang Natal

835
MELONJAK: Harga beras di Pasar Kendal mengalami kenaikan sejak sepekan terakhir. (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MELONJAK: Harga beras di Pasar Kendal mengalami kenaikan sejak sepekan terakhir. (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)

KENDAL – Harga beras di sejumlah pasar tradisional mengalami kenaikan sejak sepekan terakhir. Kenaikan harga hampir disemua jenis beras, berkisar Rp 1.000 hingga Rp 1.500 per  kilogram.  Sehingga dalam  satu karung beras ukuran  25 kilogram, warga harus menambah Rp 25 ribu hingga Rp 37 ribu.

Belum diketahui penyebabnya, namun sejumlah pedagang mengatakan kenaikan beras memang selalu terjadi akhir tahun menjelang natal dan tahun baru. “Kenaikan beras ini biasanya nanti diikuti kenaikan harga daging, gula dan minyak serta kebutuhan pokok lainnya,” kata pedagang beras Pasar Kendal, Milatul Janah.

Kenaikan harga sekarang ini, menurutnya masih bisa melonjak lagi hingga akhir  Desember mendatang. “Kenaikan beras ini karena saat ini rata-rata semua daerah sedang melakukan musim tanam padi. Sehingga stok padi di petani menipis, begitupun distributor beras menaikkan harganya,” tambahnya.

Dikatakannya, kenaikan beras terjadi seperti pada jenis Bramo dan Mentik  Wangi. Yakni dari harga sebelumnya Rp 9.000 per-kilogram, kini naik menjadi Rp 10.500. Kenaikan terjadi juga pada beras  jenis  C4 naik Rp 1.000. Yakni dari RP 8.500 menjadi Rp 9.500. Jenis  beras ketan sebelumnya  harga  Rp 13 ribu  naik jadi Rp 20  ribu per kilogram.

Hal tersebut diakui Zumrotun, pedagang beras di Pasar Kendal lainnya. Ia mengaku kenaikan beras  mengakibatkan menurunnya omset penjualan beras. Sehingga keuntungan yang didapatnyanya juga sedikit. “Pembeli mengurangi jumlah pembelian. Dari biasanya beli satu karung yang isinya 25kg, kini warga memilih membeli 10kg,” tuturnya.

Dalam sehari, jika biasanya ia mampu menjual 3 hingga 3,5 ton, sekarang ini penjualan beras jenis C4 menurun menjadi dua ton perhari. Begitupun dengan penjualan beras-beras lain seperti mentik wangi, bramo 1,5 ton, kini hanya bisa menjual 1 ton saja.

Ia berharap, stok beras dan harga beras jenis C4 bisa stabil. Sehingga, masyarrakat tidak resah dan ia bisa berjualan dengan tenang. “Harga bisa stabeil, sebab saat naik pasti masyarakat yang beli itu pada bertanya-tanya,” akunya.

Pembeli beras Siti Afifah  mengaku kaget dengan kenaikan harga-harga beras tersebut.  “Naiknya  sangat  tinggi, kenaikan rata-rata  Rp 1.500. Terpaksa saya Cuma beli 10 kilogram saja, sambil menunggu harga turun,” tuturnya.

Ia mengaku biasanya memang membeli  satu karung ukuran 25 kilogram untuk stok beras selama satu bulan. Tapi karena kenaikan yang tinggia ia membeli dua kantong plastik beras ukuran 5 kilogram. “Kalau tidak begitu, jadi tidak bisa membeli kebutuhan lainnya,” akunya. (bud/bas)