Perpustakaan Sumber Informasi Warga

Desa Tlompakan, Kecamatan Tuntang

598
MENCARI INFORMASI: Perangkat Desa dan warga memanfaatkan akses internet untuk mencari informasi yang kemudian digunakan untuk berinovasi menciptakan kreasi.
MENCARI INFORMASI: Perangkat Desa dan warga memanfaatkan akses internet untuk mencari informasi yang kemudian digunakan untuk berinovasi menciptakan kreasi.

BRINGIN – Desa Tlompakan sangat perduli dengan kualitas Sumber Daya Manusianya. Peningkatan kualitas SDM selalu dilakukan, salah satunya melalui perpustakaan Desa yang kini tengah dijalankan.

Di perpustakaan Desa yang bernama Cemerlang ini warga Desa diberdayakan melalui akses informasi. Selain dari buku, warga juga difasilitasi mengakses informasi lewat internet yang ada di perpustakaan ini. Hasilnya, sejumlah inovasi dapat diciptakan masyarakat dari hasil pengembangan informasi yang didapatkannya melalui internet.

Joko Swantono (SIGIT ANDRIANTO/ JAWA POS RADAR SEMARANG)
Joko Swantono (SIGIT ANDRIANTO/ JAWA POS RADAR SEMARANG)

”Berbagai kerajinan sudah diciptakan oleh warga sini. Awalnya melihat dari internet kemudian mencoba menciptakan kreasi sendiri dengan sentuhan inovasi. Seperti kreasi jahitan, tata boga dan lain sebagainya,” ujar Joko Swantono, Sekretaris Desa Tlompakan kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Tidak hanya mendorong warga untuk aktif datang ke perpustakaan desa, pegelola perputakaan desa juga berinisiatif untuk menjemput bola. Buku-buku disediakan dalam setiap kegiatan yang melibatkan banyak warga. Seperti perkumpulan PKK, kumpulan RT, RW maupu Desa.

Tidak hanya kepada orang dewasa, desa ini juga mulai menyiapkan generasi penerus sejak dini. Keberadaan perpustakaan ini juga ditujukan untuk meningkatkan kualitas anak-anak di Desa Tlompakan. Di perpustakaan Desa ini, selain dibiasakan untuk membaca, anak-anak juga diingatkan dengan permainan tradisional. Tujuannya, supaya anak-anak tetap megikuti kemajuan teknologi tanpa melupakan permainan tradisional.

”Kita ingin anak-anak bisa mulai gemar membaca. Sebab, pengetahuan itu didapat bermula dari kegiatan membaca. Kemudian bisa melek teknologi, tapi juga kenal permainan tradisional,” ujar Joko.

Untuk lebih memudahkan anak-anak yang jauh dari perpustakaan, nantinya akan dibentuk semacam pojok baca di setiap RW yang ada di Desa Tlompakan. Dengan minat baca yang tinggi diharapkan, kualitas anak-anak Desa Tlompakan juga bisa menjadi semakin lebih baik lagi.

”Di perpustakaan ini juga ada bimbel dan sanggar anak. Sanggar ini, fungsinya adalah untuk menggali kreativitas anak-anak. Kita gali potensi anak melalui sanggar ini,” jelas Tri Suhartiningsih, perangkat Desa yang juga merupakan pengelola Perpusdes Cemerlang.

Perhatian kepada anak-anak, kata Tri, tidak hanya berwujud di perpustakaan saja. Lebih dari itu, desa Tlompakan juga menerapkan jam wajib belajar bagi anak-anak di Desa. Setiap jam 18.00-21.00, anak-anak dilarang untuk menonton tayangan televisi. Pada waktu ini, anak-anak diwajibkan untuk belajar di rumah.

Setiap pukul 18.00 dikatakan olehnya, terdapat sirine yang mengingatkan anak-anak untuk mematikan televisi untuk kemudian belajar setelah melaksanakan ibadah. Kontrolnya, sejumlah perangkat desa, terutama ibu-ibu, akan keliling untuk memantau anak-anak di Desa. (sga/bas)