Ajarkan Bahasa Jawa kepada Anak

586
CINTA KELUARGA : Tukijo bersama istrinya Luluk Amalia, dan kedua anaknya, Ahnaf Wiratama Adiwidyanto serta Jolia Adiwidyastuti. (Nurchamim/Jawa Pos Radar Semarang)
CINTA KELUARGA : Tukijo bersama istrinya Luluk Amalia, dan kedua anaknya, Ahnaf Wiratama Adiwidyanto serta Jolia Adiwidyastuti. (Nurchamim/Jawa Pos Radar Semarang)
TELATEN : Tukijo saat memberi pelatihan menulis untuk guru. (Istimewa)
TELATEN : Tukijo saat memberi pelatihan menulis untuk guru. (Istimewa)

Terkikisnya nilai-nilai budaya pada generasi muda saat ini membuat Tukijo juga berfokus membangun konteks sosial budaya di lingkungannya. Salah satunya budaya silaturahmi dan budaya Bahasa Jawa yang kini seakan hilang ditelan zaman.

“Budaya-budaya ini seakan hilang. Bahkan di perkotaan antar tetangga saja tidak saling kenal atau bertegur sapa,” katanya. Salah satu yang paling ia khawatirkan adalah hilangnya nilai luhur Bahasa Jawa pada generasi muda. Bahkan anak-anak saat ini tidak mengenal unggah-ungguh,  misalnya dengan menggunakan bahasa kromo inggil.

Contoh simpelnya saja jawaban ketika dipangil orang tua ataupun menolak pemberian lebih sering dijawab dengan Bahasa Jawa kasar alias ngoko atau Bahasa Indonesia. “Jarang sekali mendengar ucapan mboten, dalem dari anak-anak kecil. Seakan mereka tidak mengenal Bahasa Jawa. Hal ini terjadi lantaran memang jarang digunakan atau diajarkan oleh beberapa keluarga muda,” ucapnya.

Kedua buah hatinya yakni Ahnaf Wiratama Adiwidyanto dan Jolia Adiwidyastuti sengaja diajari untuk menggunakan Bahasa Jawa dan dikenalkan dengan kearifan lokal serta Budaya Jawa. Pun dengan lingkungan rumahnya, Tukijo juga memberikan pengenalan budaya dan kearifan lokal. “Saya punya rencana untuk membuat taman baca di rumah saya, disini mereka akan saya ajak untuk lebih mengeksplorasi lingkungan, belajar tentang budaya dan bermain di alam,” jelasnya.

Selain taman baca, dirinya juga berencana membuat club sinema khusus anak-anak agar bisa menelurkan sineas muda dari Semarang. Tema yang diangkat adalah tentang alam dan kearifan lokal yang masih sangat kental di daerah Gunungpati. (adennyar wycaksono/ric)