Guru..Oh Guru..Riwayatmu Kini

593
Oleh : Dyah Catur Sulistyani,S.Pd
Oleh : Dyah Catur Sulistyani,S.Pd

Guru merupakan profesi yang mulia, pencetak generasi muda penerus bangsa. Guru juga sosok yang menurut istilah Jawa digugu lan ditiru yang artinya segala tindakannya akan dipercaya dan diikuti oleh anak didiknya. Saat ini banyak beban yang diemban oleh seorang guru dalam mengemban profesi ini. Tidak hanya di lingkungan sekolah saja tetapi seorang guru harus menjaga perilaku serta sikapnya dimanapun beliau berada. Tidak mudah memang menjalani profesi ini.

Perarturan terbaru tentang kenaikan pangkat bagi guru ternyata menjadi masalah tersendiri. Guru ASN disibukkan dengan urusan kenaikan pangkat yang rumit dan tuntutan jam kerja yang berat. Kenaikan pangkat seorang guru sekarang harus disertai dengan pengembangan diri, publikasi ilmiah dan karya inovatif. Pengembangan diri bisa diperoleh dengan diklat ataupun bintek, namun untuk publikasi ilmiah dan karya inovatif banyak yang belum mampu melakukannya. Setiap tahun Guru diwajibkan membuat DUPAK yang menyita waktu pembelajaran dan hasilnyapun belum dapat dipertimbangkan untuk kenaikan pangkat. Sangat ironis sekali dimana seorang guru dituntut mendidik dan membimbing peserta didik namun nasibnya sendiripun sedikit terabaikan. Apakah kami tidak bisa seperti pegawai struktural yang pangkatnya akan sendirinya mengalami kenaikan setelah 4 tahun? Mungkin ini pertanyaan yang ada di benak guru semuanya.

Bagi guru non ASN lebih memprihatinkan lagi. Untuk menjadi seorang guru haruslah seorang sarjana pendidikan yang ditempuh tidak dalam waktu singkat. Namun, jika sudah menjadi guru honor yang diperoleh tidak sebanding dengan beban yang diemban. Seorang buruh pabrik saja yang notabene jenjang pendidikannya lebih rendah mendapatkan honorarium sesuai dengan UMR kabupaten, sedangkan guru honorariumnya lebih rendah dari itu bahkan masih ada guru yang diberi honor Rp. 150.000,00 per bulan. Sungguh suatu ketimpangan yang sangat jelas dan menyedihkan.

Masalah lain adalah jam kerja. Guru bukanlah profesi yang bisa disamakan dengan profesi yang lain seperti pegawai struktural. Seorang guru setiap hari dari pagi sampai sore berada di sekolah menghadapi peserta didik dalam proses belajar mengajar. Selesai mengajar tidak langsung selesai pekerjaannya, guru masih membawa pekerjaan itu ke rumah untuk mengoreksi pekerjaan peserta didik, membuat laporan kemajuan siswa dan tuntutan administrasi yang lain.

Sekarang ini seorang guru dilarang untuk sakit ataupun mempunyai keperluan keluarga. Hal ini dikarenakan seorang guru harus absen datang dan absen pulang sesuai dengan jam kerja. Jika terlambat atau pulang lebih awal maka tunjangan siap dipotong. Demikian juga jika seorang guru dalam satu bulan izin lebih dari 3 hari ataupun 2 hari berturut-turut maka tunjangan akan dipotong 1 bulan. Dan kabar tidak mengenakkan libur sekolah pada akhir semester gasal akan dikurangi dari dua minggu menjadi hanya satu minggu. Padahal hanya libur semester gasal yang betul-betul dinikmati guru karena libur kenaikan kelas hanya untuk siswa sementara guru harus mempersiapkan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB).

Melihat kondisi di atas para guru berharap pemerintah dan pihak yang berkompeten bisa mempertimbangkan kondisi guru di lapangan dan dapat memberikan solusi terbaik bagi semuanya. (*)

SMA NEGERI 3 DEMAK