Resah Banjir, Warga Dukung Normalisasi

Normalisasi Sungai Banjir Kanal Timur Molor Lagi

585

Akibat terjangan banjir, tidak hanya puluhan rumah warga yang terendam air bercampur lumpur. Namun, ratusan rumah yang terendam. “Jalan Raya Sawah Besar biasanya ikut terendam. Apalagi kalau arusnya deras, sangat berbahaya, pengendara motor bisa jatuh. Pernah banjir malam hari, sangat berbahaya,” bebernya.

Marno menambahkan, warga sekitar telah berinisiatif membuat tanggul sebagai penahan air supaya tidak meluber ke permukiman warga. Namun, upaya ini belum maksimal karena volume air sangat tinggi dan deras. “Warga sudah memasang karung diisi pasir, tapi kadang juga masih kalah. Sebenarnya kami sering mendapatkan bantuan karung dari pemerintah, tapi antisipasi ini belum sepenuhnya bisa menanggulangi banjir. Paling hanya sementara,” imbuhnya.

Sementara itu, para Pedagang Kaki Lima (PKL) di kawasan Barito Semarang Timur juga sangat mengapresiasi pemerintah dalam melakukan normalisasi sungai BKT. Namun demikian, para PKL berharap nantinya dikembalikan ke tempat asal setelah pekerjaan normalisasi selesai.

“Sebenarnya PKL di sini tidak keberatan, malah mendukung. Tapi harapan kami dan pemilik PKL disini, setelah selesai normalisasi kami dikembalikan lagi ke sini (Barito), diseragamkan malah bagus,” kata perajin aluminium, Zulharin.

Laki-laki yang tinggal di Kelurahan Bugangan Semarang Timur ini juga mengakui sebelumnya telah mendapat informasi adanya rencana normalisasi sungai BKT. Bahkan, pada akhir tahun 2017 ini, pekerjaan tersebut akan terlaksana. “Kalau dengar-dengar, pertengahan Desember 2017 ini, alat berat sudah masuk. Rencananya sepanjang sini dikeruk. Tapi sampai sekarang belum ada,” katanya.

Diakuinya, para PKL di Barito sangat resah meskipun tidak terkena terjangan banjir luapan sungai BKT. Keresahan mereka justru karena normalisasi sungai bakal memindahkan para PKL Barito ke Penggaron. “Ya resah saja. Tempatnya di Penggaron, lokasinya berada di dalam, jauh dari jalan raya. Ya bisa dibilang mengkerdilkan usaha,” keluhnya.

Selain itu, Pasar Klitikan Penggaron yang dijadikan tempat relokasi para PKL Barito, dikhawatirkan tidak cukup untuk menampung semuanya. Sehingga para pedagang berjubel dan tidak mendapatkan luasan tempat yang memadahi. “Kalau rencananya setiap PKL hanya dapat 2 x 3 meter. Luas itu, mana cukup untuk jualan? Kalau ideal untuk usaha saya, paling tidak 10 x 15 meter,” katanya.

Kendati begitu, sejauh ini pihaknya belum mendapatkan kepastian normalisasi sungai BKT dilakukan. Namun, para pemilik PKL hanya mendapat sosialisasi dari instansi terkait dalam hal ini Dinas Perdagangan Kota Semarang. “Terakhir kalau kelurahan di Bugangin sini, sosialisasi awal Desember 2017. Kan disini banyak, ada yang ikut kelurahan Rejosari juga,” terangnya.

Sementara itu, pemilik PKL Setel Kenteng Peleg Racing Prokol mengakui para PKL onderdil di kawasan Barito akan mengikuti program pemerintah dalam kaitannya normalisasi sungai BKT. “Sebenarnya kami manut wae, jika dibongkar kembali. Tapi setelah normalisasi selesai, kami minta dikembalikan kesini lagi. Itu harapan para PKL disini,” kata pria yang akrab dipanggil Prokol ini.

Menurutnya, Pasar Klitikan Penggaron tidak mendukung pengembangan usaha PKL Barito. Justru dianggap mematikan penghasilan para PKL, lantaran tidak strategis. “Kami disana hanya menunggu orang datang yang membutuhkan barang. Berbeda kalau disini, orang lewat bisa melihat-lihat, dan bisa mampir juga,” katanya.

Warga Rejosari ini juga berkeinginan Kota Semarang memiliki ikon tempat penjualan onderdil motor seperti halnya di Kota Solo. Bahkan, pihaknya juga mengusulkan nantinya di pinggiran BKT dibangun kembali tempat PKL seperti halnya di Pasar Kembang di kawasan Kalisari Kecamatan Semarang Selatan. “Seperti itu kan bagus. Ya harapan PKL sini, dibangunkan kembali tempat. Yakni, setelah normalisasi dikembalikan kesini lagi,” harapnya. (mha/ida)