Terdampak BKT Direlokasi Bertahap

137 Pedagang Siap Pindah Awal Januari

493

TERCATAT kurang lebih 2.172 bangunan, terdiri atas kios permanen pedagang kaki lima (PKL) maupun hunian liar di bantaran Sungai Banjir Kanal Timur (BKT) yang tersebar di 12 kelurahan akan direlokasi secara bertahap. Tahap pertama, sebanyak 137 pedagang yakni kelompok pedagang spare part motor di Kelurahan Rejosari Semarang Timur, bersedia direlokasi ke Pasar Klitikan Penggaron terlebih dahulu. Pembangunan tempat relokasi di Pasar Klitikan Panggaron ini telah 100 persen selesai, sehingga siap ditempati oleh para pedagang.

Hal yang cukup mengkhawatirkan adalah ketersediaan Rusunawa Kudu yang saat ini baru tersedia sebanyak 150 kamar. Padahal jumlah warga penghuni liar di bantaran Sungai BKT berjumlah 622 bangunan.

“Ada satu kelurahan siap pindah terlebih dulu ke Pasar Klitikan Penggaron, yakni kelompok pedagang spare part di Kelurahan Rejosari. Mereka telah siap mengawali pindah awal Januari 2018 mendatang. Sudah kami komunikasikan apa saja yang dibutuhkan. Bangunan Pasar Klitikan juga sudah 100 persen jadi. Para pedagang sudah mengecek di sana,” kata Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang, Fajar Purwoto, kepada Jawa Pos Radar Semarang, Minggu (17/12) kemarin.

Rencananya, kata Fajar, alat berat masuk BKT pada akhir Desember 2017. Kemudian dilakukan pengukuran-pengukuran kurang lebih membutuhkan waktu 1 bulan. Sehingga awal Februari 2018, sudah bisa dimulai pembangunan normalisasi BKT. “Mudah-mudahan kalau waktunya tidak bergeser, pedagang akan pindah 5 Januari. Mereka nanti akan bersama-sama membongkar bangunan didampingi tim Dinas Perdagangan, kelurahan dan kecamatan. Untuk operasional, apabila diperlukan akan kami siapkan,” katanya.

Ditargetkan, April mendatang lahan BKT sudah kosong seluruhnya. Fajar mengakui, berdasarkan hasil evaluasi, pemindahan warga terdampak di bantaran BKT ini membutuhkan waktu cukup lama. “Karena mereka membongkar sendiri. Sebanyak 137 bangunan ini saja diperkirakan membutuhkan waktu lima hari. Besok Senin (hari ini, red), kami melakukan validasi data untuk memberikan tanda atau penomoran kios di Pasar Klitikan Penggaron. Nanti akan kami sinkronkan dengan data hasil studi Larap. Karena acuan kami kan hasil studi Larap,” katanya.

Apabila ada kekurangan fasilitas, pihaknya berjanji akan melengkapi. Pada 2018, Fajar mengaku telah menganggarkan Rp 5 miliar untuk menambah fasilitas workshop sebagai fasilitas bengkel mobil. Misalnya mau ganti onderdil, ban, dan seterusnya, nanti bisa menggunakan fasilitas workshop itu. Yang menempati rusunawa pun kemarin sudah ada yang menghadap ke Dinas Perdagangan. “Kami beri arahan agar meminta surat keterangan kepada lurah, diketahui camat. Kemudian kami serahkan ke Dinas Perumahan dan Permukiman untuk segera ditempati. Karena ini sudah mulai proses perpindahan. Kalau nanti dilakukan bareng-bareng, bisa krodit sekali,” katanya.