Pendidikan Demokrasi Melalui Pemilu Karangtaruna

924
DEMOKRASI: Pemilu Karangtaruna yang digelar di aula Desa Bakalrejo Kecamatan Susukan sebagai bentuk pembelajaran demokrasi kepada pemuda Desa setempat, kemarin. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
DEMOKRASI: Pemilu Karangtaruna yang digelar di aula Desa Bakalrejo Kecamatan Susukan sebagai bentuk pembelajaran demokrasi kepada pemuda Desa setempat, kemarin. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

UNGARAN – Sebagai bentuk penerapan demokrasi sejak dini Pemerintah Desa (Pemdes) Bakalrejo Kecamatan Susukan menggelar pemilihan ketua karangtaruna setempat, Senin (18/12).

Kades Bakalrejo Abdullah mengatakan penerapan demokrasi diwilayahnya harus dilaksanakan disemua lini. “Tidak hanya pemilihan Kepala Desa (Pilkades) saja, ketua karangtaruna juga harus melalui pemilihan,” ujarnya.

Pemilihan ketua karangtaruna tersebut juga sebagai penyampaian aspirasi pemuda. Pemilihan dilaksanakan layaknya pemilu pada umumnya. Dijelaskan Abdullah, tahapan yang dilakukan para calon juga melalui kampanye.“Calonnya ada dua, mereka beberapa minggu sebelumnya juga melaksanakan kampanye,” ujarnya.

Kedua calon juga menyebarkan brosur di desa layaknya para peserta pemilu pada umumnya. “Ini juga untuk mendidik para pemuda supaya tahu bagaimana tahapan dalam pemilu,” katanya.

Sebelum pencoblosan, ke dua calon menyampaikan visi dan misi di depan pemuda dan pemdes Bakalrejo. Kedua calon tersebut yaitu Muntamasikin dari Dusun Dolog dan Nashih Ulwan Ardana dari Dusun Sumbersari. “Keduanya visi dan misinya pada intinya memajukan karangtaruna disini,” ujarnya.

Sejak dibukanya debat calon pukul 09.00 WIB, sorak sorai pendukung masing-masing calon mulai bergemuruh. Beberapa dari mereka juga meneriakkan yel-yel dukungan kepada masing-masing calon. Pemilihan ketua karangtaruna sendiri dilaksanakan di aula balai Desa Bakalrejo.

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (Dispermasdes) Kabupaten Semarang, Yosep Bambang T mengapresiasi langkah yang diinisiasi oleh Pemdes Bakalrejo tersebut. menurut Yosep, pendidikan demokrasi bagi generasi muda masyarakat desa dapat dilakukan melalui hal yang bersifat positif.

“Pemilu Karangtarura contohnya, itu dapat mendidik generasi muda setempat bagaima berdemokrasi mengeluarkan pendapat mereka,” katanya. Meski begitu, pendapat yang dilontarkan melalui visi dan misi calon haruslah berdampak baik bagi generasi muda masyarakat desa setempat.

“Tidak hanya melalui Pilkades saja, belajar berdemokrasi di desa itu. Melalui pemilu karangtaruna seperti itu juga bisa,” katanya. Menurut Yosep, hal tersebut perlu untuk ditiru desa-desa yang lain. Sebagai bentuk pembelajaran berdemokrasi kepada generasi muda dan masyarakat desa yang lain. (ewb/bas)