Menulis Cerpen Antiplagiat

732
Oleh: Dra Febti Lita Yulianti
Oleh: Dra Febti Lita Yulianti

RADARSEMARANG.COM – MENULIS cerpen di kalangan pelajar SMA/SMK, bukan sesuatu yang baru. Pembelajaran menulis cerpen ini sudah dikenalkan sejak siswa duduk di bangku SMP. Pembelajaran menulis cerpen pada mapel Bahasa Indonesia seakan mengulang hal yang sama, yaitu copy paste atau plagiarisme. Tidak sedikit siswa nekat mencontek cerpen karya penulis lain karena malas berpikir dan malas mengembangkan daya kreativitas imajinasinya. Generasi micin yang kebanyakan malas membaca ini tanpa malu-malu menulis cerpen copy paste .

Menyikapi kondisi yang tidak sehat tersebut, diperlukan tindakan bijak dan konkret untuk mencegah plagiarisme cerpen dan menumbuhkan daya kreativitas siswa dalam menulis cerpen yang orisinil, bukan plagiat, dan berdaya kreativitas tinggi karena bahasa seseorang mencerminkan pikirannya. Semakin terampil seseorang berbahasa, semakin cerah dan jelas pula jalan pikirannya.

Menulis berhubungan dengan proses berpikir serta keterampilan berekspresi yang diwujudkan dalam bentuk tulisan. Menulis memerlukan kesabaran dalam berproses, sehingga siswa harus sering diajak praktik menulis orisinil, karena hal ini akan memudahkan siswa berpikir kritis, menjelaskan jalan pikiran, dan dapat memudahkan daya persepsi.

Kerangka Konsep

Tabel kerangka konsep cerpen dapat digunakan untuk menyikapi tulisan cerpen plagiat. Tabel kerangka konsep cerpen adalah sebuah tabel yang berisi konsep dasar unsur-unsur intrinsik pembentuk cerpen yang akan ditulis. Tabel kerangka konsep ini digunakan untuk mempermudah konsep cerita yang akan dikembangkan menjadi naskah cerpen.   Tabel kerangka konsep ini melatih siswa untuk berpikir runtut dalam menyusun sebuah cerita sebelum cerita itu dikembangkan menjadi naskah cerpen.

Dengan tabel kerangka cerpen ini, siswa dipandu secara sistematis untuk memulai sebuah cerita sesuai dengan konsep yang sudah dirancang siswa sendiri, mulai dari tema, alur, latar, penokohan, sudut pandang, amanat, dan gaya bahasa. Hal ini secara tidak langsung melatih kognitif siswa dalam berpikir logis, runtut, dan kreatif mengembangkan daya imajinasi cerita.