Atasi Keterbatasan Lahan Dengan Vertikultur

Desa Jatirejo, Kecamatan Suruh

1624
VERTIKULTUR : Desa Jatirejo mulai mengembangkan system pertanian vertikultur untuk memanfaatkan lahan sempit. Atasi Keterbatasan Lahan Dengan Vertikultur. (IST)
VERTIKULTUR : Desa Jatirejo mulai mengembangkan system pertanian vertikultur untuk memanfaatkan lahan sempit. Atasi Keterbatasan Lahan Dengan Vertikultur. (IST)

RADARSEMARANG.COM, SURUH – Desa Jatirejo mulai mencoba mengembangkan sistem vertikultur atau sistem tanam bertingkat untuk memanfaatkan lahan sempit. Dengan sistem ini, warga diajak untuk menanam berbagai macam sayuran siap konsumsi seperti selada, sawi dan sejumlah sayuran lainnya. Penanaman dengan system ini, dikatakan oleh Sekretaris Desa Jatirejo, Wisnu Aminudin, sebagai tindak lanjut dari pelatihan yang telah diberikan kepada warga sebelumnya.

”Selain untuk memanfaatkan lahan sempit, jadi beberapa waktu lalu di sini banyak hama tikus. Ini untuk mengatasi itu juga. Ini baru tahap uji coba sebenarnya,” ujar Sekdes yang sangat totalitas dalam pengabdiannya ini.

Wisnu Aminudin (SIGIT ANDRIANTO/ JAWA POS RADAR SEMARANG)
Wisnu Aminudin (SIGIT ANDRIANTO/ JAWA POS RADAR SEMARANG)

Dikatakan olehnya, penanaman dengan sistem ini telah membuahkan hasil yang cukup bagus. Namun, untuk sementara ini memang hasilnya masih untuk konsumsi pribadi. Meskipun demikian, tidak menutup kemungkinan ke depan hasil pertanian vertikultur ini akan diedarkan pula di pasaran.

”Sayurannya bagus hasilnya. Tapi kan ini masih uji coba. Hasilnya masih terbatas. Ke depan akan kami kembangkan lagi sehingga memiliki hasil yang cukup untuk dipasarkan,” jelas sekdes selalu berinovasi untuk kemajuan warga desanya.

Ke depan, dirinya dan petani lainnya akan berupaya untuk menemukan formula yang tepat sehingga hasil pertanian vertikultur ini dapat menghasilkan sayuran dengan kuantitas dan kualitas yang maksimal. Hasil pertanian vertikultur ini akan dipasarkan dengan produk khas yang dimiliki oleh Desa ini.

Diktakan oleh Wisnu, Desa ini memiliki makanan khas berupa rengginang gulung. Tidak seperti rengginang pada umumnya, rengginang di sini digoreng dalam bentuk gulungan-gulungan. ”Dulu ini awalnya dibiayai pemerintah, kemudian berkembang. Sekarang sudah lumayan. Menjadi ciri khas dari desa kami,” kata Wisnu kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Rengginang gulung ini, kata dia, diproduksi dalam skala rumahan yag ketika sudah jadi dikumpulkan menjadi satu untuk dipasarkan di beberapa daerah. Pemasaran rengginang gulung ini diantaranya sudah sampai ke sejumlah daerah luar kabupaten Semarang. ”Ada salesnya yang mengambil, ini pemasarannya biasanya ke mal,” kata dia.

Keberadaan rengginang gulung ini dikatakan olehnya, juga memberikan dampak positif kepada warga Desa Jatisari, yakni memberikan penghasilan tambahan, terutama kepada ibu-ibu. Mereka yang sedang tidak ada pekerjaan, biasanya bisa membantu dalam pembuatan rengginang gulung ini. ”Mereka bisa membantu membuat rengginang ini sembari mengasuh anaknya,” kata Wisnu. (sga/bas)