Mendidik Menulis Siswa Zaman Now

564
Oleh: Usman Roin
Oleh: Usman Roin

RADARSEMARANG.COM – MENULIS bagi siswa zaman now patut dipertanyakan. Karena pelajar sekarang dengan gadget yang dimiliki lebih asyik ngegame sembari nongkrong di warung, daripada menuliskan hal-hal unik, informatif, mendidik, yang memiliki manfaat untuk banyak orang. Seakan ada persepsi, hidup bagi bagi siswa zaman now masih terlalu dini untuk melakukan kebermanfaatan. Yang terpenting, justru menikmati hidup yang tak perlu susah payah berkarya.

Fakta di atas menunjukkan, tidak terbentuknya keterampilan menulis bagi pelajar akibat dari pembelajaran menulis yang dimasukkan ke dalam pelajaran Bahasa Indonesia dipersempit maknanya. Mengutip Bambang Trim (2011:9) bahwa penyempitan makna pembelajaran Bahasa Indonesia baru sekadar menulis sastra: cerpen dan puisi ataupun menulis dengan jenis argumentasi, eksposisi, diskripsi dan narasi.

Guru Bahasa Indonesia tidak menjelaskan bahwa menulis sebagai keterampilan hidup (life skill) dan sarana publisitas sebagai bagian dari penguatan eksistensi dan penguatan atas kemampuan seseorang. Alhasil, menulis bagi pelajar now seakan terputus korelasinya pasca pembelajaran di sekolah dengan aktivitas yang mereka lakukan. Padahal, keberhasilan menulis itu akan mudah dilakukan apabila secara empiris terdapat korelasi dengan aktivitas, skill, dan kompetensi yang dimiliki.

Secara profesional menulis adalah sebuah proses, tidak dapat dilakukan hanya dengan semata-mata peniruan atau copy paste sukses seorang penulis. Karena itu, guna mendidik menulis pelajar now menjadi keterampilan hidup, bagi penulis ada beberapa hal yang bisa dilakukan, antara lain:

Pertama, rekonstruksi pelajaran Bahasa Indonesia. Artinya, guru-guru bahasa Indonesia harus memprioritaskan bahwa pembelajaran menulis yang dilakukan –meskipun include di pelajaran Bahasa Indonesia– bukanlah sekadar mengenalkan kepenulisan dan tugas pembelajaran an sich. Melainkan dipola, agar hasil karya menulis tersebut selanjutnya dikoneksikan dengan penerbitan (media massa) supaya bisa menjadi konsumsi banyak orang (publik). Untuk mewujudkan hal itu, guru Bahasa Indonesia harus akrab dengan jenis penerbitan, mulai dari harian (koran), mingguan (buletin), bulanan (tabloid, majalah), hingga tahunan (buku) yang telah beredar. Gunanya, memperluas akses distribusi karya kepenulisan pelajar yang layak dan bagus untuk diterbitkan.

Kedua, peran serta guru mapel lain. Membumikan ilmu pengetahuan dalam bentuk tulisan yang terspesialisasi adalah tanggung jawab bersama insan berpengetahuan. Guna menumbuhkan kemampuan menulis secara masif tersebut, dibutuhkan peran serta guru mata pelajaran (mapel) selain Bahasa Indonesia, agar lahir ragam perspektif keilmuan baru. Di sinilah kesadaran guru untuk berperan aktif membumikan secara praksis bidang keilmuannya sangat diperlukan. Tujuannya, agar kehadiran tulisan tersebut bisa mewarnai dan melahirkan cara pandang yang variatif, hingga memberi kontribusi nyata untuk publik.