Mendidik Menulis Siswa Zaman Now

567

Ketiga, mendirikan ekskul jurnalistik. Ekskul jurnalistik adalah wadah alternatif kepenulisan khas serta tempat pengasahan talenta penulis pemula, bila dirasa pembelajaran Bahasa Indonesia terhenti pada ranah teoritis yang kering makna. Keberaraan ekskul jurnalistik di berbagai jenjang SMP/MTs, SMA/MA dan SMK justru akan mampu menjawab tantangan bahwa menulis bagi pelajar now harus menjadi kebiasaan. Bukan lagi untuk disimpan sebagai catatan peribadi (diary), melainkan dipublis hingga dilombakan agar memiliki kontribusi, baik secara pribadi dan kelembagaan. Terlebih, berbagai perlombaan jurnalistik sesuai jenjang sudah banyak dilakukan, baik oleh Dinas Pendidikan sendiri atau satuan kelembagaan lainnya.

Dengan demikian, pelajar now sudah harus berpikir ulang bahwa sejarah mereka sebagai pelajar itu akan menjadi kontribusi penting bila ditopang dengan keterampilan menulis dengan baik. Dan itu bisa terwujud, bila mereka mau berproses mulai dari menulis hal-hal sederhana, kemudian meningkat sesuai dengan pemahaman, pengalaman empiris dan kompetensi yang dimilikinya.

Ketiga, menjalin kemitraan dengan media. Karya pelajar zaman now secara kelembagaan akan bisa terpublikasi dengan mudah, bila sekolah punya kedekatan jalinan dengan media. Jalinan ini bisa dilakukan melalui kunjungan keredaksian, kerja sama pelatihan kepenulisan, hingga advertising (periklanan). Semakin dekat jalinan kelembagaan dengan media penerbitan, tentu secara emosional kedekatan itu akan memberi keuntungan dari sisi publisitas berbagai event kegiatan serta popularisasi penulis pemula berbakat. Alhasil, pada ranah ini semua pemangku kelembagaan kiranya perlu menyadari hal itu demi memperluas ruang kreatif kepenulisan bagi jamak stakeholder pendidikan. Jadilah ruang menulis tersedia, lebih luas, dan keterampilan menulis bisa berkembang menjadi penulis produktif yang istikamah menulis di media massa.

Akhirnya, mendidik menulis siswa now secara makro berarti kelembagaan harus punya mitra media yang kemudian secara mikro menjadi sarana menulis. Bukan hanya berkutat pada pembelajaran dogmatis kebahasaan yang kering implementasinya, melainkan sudah mempersiapkkan menjadi sarana pendidikan literasi semua orang tak terkecuali pelajar zaman now. Semoga! (*/aro)

Humas dan Pembina Jurnalistik SMP Islam Terpadu PAPB serta Mahasiswa Magister PAI UIN Walisongo Semarang. (roinusman@gmail.com)