Ada Dugaan Perintah Atasan

678

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Berkas perkara dugaan pencurian uang senilai Rp 2,3 miliar milik PT Nawakara Arta Kencana Semarang, yang merupakan perusahaan jasa layanan pengamanan pendistribusian uang tunai mulai memasuki agenda pemeriksaan saksi di Pengadilan Negeri (PN) Semarang.

Dalam kasus itu telah menjerat tiga orang karyawan perusahaan tersebut diantaranya; staf kasir,Taufiq Setiyawan dan Fajar Pratono, kemudian petugas keamanan, Slamet Cipto Hadiyono.

Kuasa hukum terdakwa Taufiq, Agan Sutanto mengatakan, perkara ini sudah memasuki pemeriksaan saksi. Ada tiga saksi yang dihadirkan dalam persidangan. Diantaranya Asisten Manager Area Barat PT Nawakara dan Senior Manager Operasional PT Nawakara, Edy Dharmawan Raden Dede Kurniawan.

“Persidangannya sudah memasuki pemeriksaan saksi. Kami melihat dalam kasus ini, ada indikasi kuat para terdakwa menjadi korban perintah atasannya,” kata Agan Sutanto, Rabu (27/12).

Namun demikian, advokat dari LBH Mawar Saron ini tidak bersedia merinci dugaan perintah atasan tersebut. Ia hanya meminta menunggu fakta sidang yang terungkap. “Biarkan dalam persidangan kasus ini terbuka dengan sendirinya,”ujarnya.

Sedangkan, dalam dakwaanya Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Kota Semarang Sri Suparni menjerat ketiganya telah melakukan pencurian sebagaimana pasal 363 ayat 1 ke-4 KUHP. Ketiganya juga didakwa melakukan tindak pidana penggelapan sebagaimana pasal 374 KUHP juncto pasal 55 KUHP.

Dikatakan jaksa Sri, para terdakwa ini pada Kamis (15/6) jam 09.00 di kantor PT Nawakara Arta Kencana Cabang Semarang di Jalan Erlangga Raya Nomor 48 Kelurahan Pleburan, Kecamatan Semarang Semarang Selatan, dengan sengaja mengambil uang tersebut.

Peristiwa bermula ketika tim audit internal PT Nawakara Arta Kencana Pusat Jakarta terdiri saksi Raden Dede Kurniawan, Sugiyanto, Adiatna Hardiana, dan Agus Priyanto melakukan inspeksi mendadak untuk mengetahui jumlah fisik atau uang tunai perusahaan di kantor cabang Semarang. Ketika itu, Kepala PT Nawakara Cabang Semarang Raden Dimas Teguh Wicaksana, terdakwa lain dalam berkas terpisah, berusaha menghindar dengan alasan ketemu kliennya.

Kemudian, Dimas Teguh yang mengaku sibuk meminta kantor pusat untuk menunggu sehari kemudian pada Jumat (16/6). Pada Kamis sore, Dimas menghubungi Taufiq dan Fajar untuk mengambil uang di brankas dan ruang monitoring PT Nawakara sebesar Rp  650 juta. Kejadian itu terekam kamera pengawas. Uang itu lalu diserahkan keduanya kepada Dimas Teguh di SPBU Jalan Ahmad Yani Semarang. Selanjutnya, Taufiq dan Fajar kembali melanjutkan pekerjaan mengambil uang milik kliennya.

Usai mengecek brankas, ternyata ada selisih uang yang seharusnya sehingga keduanya meminta Dimas Teguh untuk melengkapi kekurangan uang. Bahwa, pada Jumat (16/6), Dimas Teguh berkelit dan teleponnya tidak aktif saat diminta menemui tim audit kantor pusat.

Brankas lalu dibuka paksa, setelah melakukan penghitungan fisik uang, seharusnya laporan posisi kas Bank Mega Semarang di PT Nawakara per 16 Juni 2017 sebesar Rp 3,1 miliar, tapi isinya hanya Rp 775,5 juta dan terdapat selisih sekitar Rp 2,3 miliar. (jks/zal)