Hanya Tiga Masuk 500 Besar Dunia

791
GENJOT DIGITALISASI : Menristek Dikti, M. Nasir memberikan paparan saat Rakor PTS di Kampus Udinus, kemarin. (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
GENJOT DIGITALISASI : Menristek Dikti, M. Nasir memberikan paparan saat Rakor PTS di Kampus Udinus, kemarin. (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Kualitas pendidikan tinggi di Indonesia saat ini terus digenjot oleh Kementerian Riset dan Teknologi  Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) dengan mendorong ekonomi digital. Pasalnya saat ini hanya ada 3 universitas di Indonesia yang masuk ranking 500 terbaik skala internasional.

Menristek Dikti, M. Nasir mengatakan agar kualitas pendidikan tinggi di Indonesia bisa bersaing di internasional, harus ada inovasi baik di tingkat program studi, fakultas ataupun universitas. Salah satunya menggenjot digitalisasi dan kemampuan bahasa asing. Apalagi hanya ada 3 universitas yang berhasil masuk ranking 500 besar.

“Perguruan tinggi harus masuk era digital, saingan kita bukan hanya dari dalam negeri saja, melainkan dari luar negeri. Hanya ada Universitas Indonesia yang duduk di peringkat 277, Insititut Teknologi Bandung (ITB) di peringkat 301 dan Universitas Gajah Mada (UGM) di peringkat 402. Lainnya diatas ranking 500 besar,” katanya dalam Rakor Perguruan Tinggi Swasta (PTS) Wilayah Kopertis VI Jateng, di Kampus Udinus, Kamis (28/12).

Inovasi yang dimaksud, lanjut Nasir adalah memanfaatkan era digital atau era ekonomi digital agar bisa mengubah metode pembelajaran. Selain sebuah tantangan sekaligus peluang, akan ada lompatan pada kualitas pendidikan jika perguruan tinggi di Indonesia mau melakukan inovasi. “Jika dilihat hampir semua lini sekarang sudah masuk ke dalam sistem digital. Bahkan kekuatan pasar dan ekonomi dunia ditopang oleh keberadaan sistem digital,” jelasnya.

Jika peluang dunia digital bisa dimanfaatkan, menurut Nasir perguruan tinggi di Indonesia bisa bersaing dengan perguruan tinggi yang ada di luar negeri. Ia pun menekankan kepada semua universitas untuk menyiapkan atau membekali mahasiswanya dengan bahasa asing. “Bahasa asing terutama bahasa Inggris wajib dimiliki, selain itu juga soft skill. Pemerintah hanya bisa mendorong adanya perubahan dan inovasi agar kualitas pendidikan kita semakin baik. Selain itu rankingnya juga meningkat,” ungkapnya.

Sementara itu Koordinator Kopertis Wilayah VI Jawa Tengah,DYP Sugiharto menambahkan, selain untuk perguruan tinggi negeri, tantangan tersebut harus dihadapi oleh perguruan tinggi swasta. Untuk itu dirinya meminta pengurus perguruan tinggi swasta harus solid dulu secara internal. Setelahnya adalah melakukan inovasi di bidang digitalisasi.

“Jika solid dari dalam, tentu kualitas pendidikannya akan berjalan dengan baik. Untuk capaian saat ini di Jateng hanya ada 3 universitas swasta yang menyandang akreditasi A,” tambahnya. (den/ric)