Panggil Pak Presiden Jokowi, Junjung Martabat Bangsa

761
MAULID NABI : Habib M Luthfi Bin Ali Bin Yahya memberikan tausiyah dalam Maulid Nabi SAW di Ponpes SGJB Semarang, Gunungpati, Kota Semarang, Ahad (31/12) kemarin. (IDA NOR LAYLA/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MAULID NABI : Habib M Luthfi Bin Ali Bin Yahya memberikan tausiyah dalam Maulid Nabi SAW di Ponpes SGJB Semarang, Gunungpati, Kota Semarang, Ahad (31/12) kemarin. (IDA NOR LAYLA/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Sekadar pengucapan panggilan terhadap kepala negara, jika disampaikan oleh rakyatnya dengan rasa dan kata penghormatan, turut mengangkat harkat dan martabat bangsa dan negara ini di mata dunia. Contoh pengucapan dari tingkat terendah hingga tertinggi, Pak RT, Pak RW, Pak Lurah, Pak Camat, Pak Kapolsek, Pak Danramil, Pak Wali Kota, Pak Gubernur hingga Pak Presiden Jokowi. Jika di lingkungannya sendiri menghormati, pihak lain akan ikut menghormati, tidak akan berani melecehkan.

Hal tersebut disampaikan ulama kharismatik dari Pekalongan, KH Habib Muhammad Luthfi Bin Ali Bin Yahya saat memberikan tausiyah dalam pengajian akbar Maulid Nabi Muhammad SAW di Ponpes Sunan Gunung Jati Ba’alawy (SGJB) Semarang, Kampung Malon, Gunungpati, Kota Semarang, Ahad (31/12) kemarin. Dihadiri pengasuh Ponpes SGJB, KH Masroni AH, Komandan Kodim (Dandim) 0733 Kota Semarang, Kol Inf Taufik Zega yang juga ketua panitia maulid dan pejabat pemerintah lainnya.

“Panggilan tersebut, mengandung kewibawaan. Ada RT atau RW, dipanggil Pak RT atau Pak RW, meski jauh lebih muda umurnya. Disinilah kewibawaan Pak RT dan Pak RW. Lingkungannya akan menghornati dan ada kewibawaan. Karena jabatan apapun itu, anugerah dari Allah SWT,” jelasnya.

Termasuk ketika memilih presiden. Meski semula berbeda partai dan berbeda pilihan, tapi setelah terpilih, harus dijunjung sebagai Presiden Indonesia. “Apapun presiden, kita junjung beliau karena sudah menjadi bapak Indonesia. Dengan begitu, maka wibawa kita akan dihargai di luar negeri. Karena kita menjunjung tinggi-tinggi harkat dan martabat bangsa, ini kebanggaan Indonesia,” terangnya.

Cara memanggil yang penuh kewibawaan tersebut, tandas ulama berpengaruh ini, telah diajarkan oleh Allah SWT di dalam Alquran ketika memanggil Rasulullah SAW, tak menyebut nama secara langsung. Tapi dengan sebutan yang menjunjung kewibawaan Baginda Nabi Muhammad Rasulullah SAW sebagai syayyidil anbiya wal mursalin (pemimpin para nabi dan rasul, red), dengan panggilan Ya Mudzakkir (pengingat manusia, red), Ya Muzammil (orang yang berselimut seluruh badan, red), Ya Sayyid (pemimpin ummat manusia, red) dan ratusan panggilan lainnya. Dalam Alquran Surat An-Nur ayat 63 disebutkan, Jangan kau memanggil kekasihku ini sebagai mana panggilan sesamamu. “Ini artinya panggilan tersebut mengandung kewibawaan,” tandasnya.

Terkait dengan pelaksanaan Maulid Nabi Muhammad SAW yang dilaksanakan di berbagai tempat, ditegaskan, itu sebagai ucapan terima kasih umat Islam kepada Baginda Nabi SAW. Bahkan, karena Rasulullah SAW, Allah SWT memanggil umat Islam dengan sebutan Ya Ayyuhallahina Amanu (Hai orang-orang yang beriman).

“Kelahiran Rasulullah SAW, bukan sembarang kelahiran. Rasulullah dilahirkan untuk diangkat menjadi rasul, nabi, presidem segala presiden, panglima segala panglima. Rasulullah dilahirkan untuk mengajak kita menikmati Islam dan iman. Karena Rasulullah SAW, Alquran diturunkan untuk menjadi pegangan umat Islam. Sehingga kita mengerti taat kepada Rasulullah, kepada orang tua dan kepada yang wajib ditaati,” tandasnya.

Dalam kesempatan tersebut Habib Luthfi menegaskan bahwa bapak ibunya Rasulullah SAW bukan penyembah berhala. Bapak ibu Rasulullah SAW hingga ke atas adalah orang-orang yang terjaga kesuciannya. “Saya sangat sakit kalau ada oknum manusia menyatakan bahwa bapaknya Rasulullah SAW belum beriman. Karena Rasulullah SAW sangat terhormat dalam nasabnya. Tidak satupun dengan nikah kontrak. Semua dengan perkawinan secara Islam. Selama hidupnya, Sayid Abdullah (Bapaknya Rasulullah, red) dan Syayyidatina Aminah (Ibunda Rasulullah, red) belum permah menyembah pahala,” tandasnya. (ida)