Sabar Hadapi Anak-Anak yang Terbiasa Bicara Kasar dan Kotor

Lebih Dekat dengan Komunitas Sahabat Tenggang (KST) Semarang

1067
MENGAJAR ANAK-ANAK : Para volunter Komunitas Sahabat Tenggang (KST) Semarang penuh kesabaran memberikan pendidikan tambahan kepada anak-anak di Kampung Tenggang. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MENGAJAR ANAK-ANAK : Para volunter Komunitas Sahabat Tenggang (KST) Semarang penuh kesabaran memberikan pendidikan tambahan kepada anak-anak di Kampung Tenggang. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM – Bekerja senyap namun nyata adalah tagline yang dilakukan Komunitas Sahabat Tenggang Semarang dalam mencerdaskan anak bangsa. Seperti apa?

JOKO SUSANTO

KEPEDULIAN terhadap anak-anak bangsa, tak harus terlihat oleh publik. Sekalipun tak berlabel organisasi resmi yang berbadan hukum, namun terus mewujudkan aksi nyata dan peduli terhadap nasib generasi muda mendatang. Demikian yang dilakukan Komunitas Sahabat Tenggang (KST) Semarang dalam mencerdaskan kehidupan anak-anak bangsa agar menjadi pribadi yang lebih baik.

Saat wartawan Jawa Pos Radar Semarang berkunjung ke basecamp KST, di Jalan Tenggang RT 05 RW 07 Kelurahan Tambakrejo, Kota Semarang, terlihat anak-anak sedang asyik belajar program RUBI (Rumah Belajar Impian) di ruang sederhana lantai dua. Di dalamnya ada penunjang buku-buku pelajaran dan beberapa fasilitas belajar. Puluhan anak juga terlihat rajin mengikuti pelajaran dengan cara duduk lesehan.

Salah satu anak adalah, Irfan Maulana Febriansyah, siswa kelas 6 SD Karangroto 01, Semarang. Ia salah satu anak yang rutin belajar bersama para volunter. Bahkan ia salah satu anak yang berprestasi dalam mata pelajaran matematika. Pernah menyabet juara pada lomba matematika tingkat SD se-Jateng di Unnes tahun 2016 lalu. “Senang belajar disini. Banyak teman dan ada kakak-kakak pengajar yang sabar dan baik-baik,” kata Irfan.

Ada tiga volunter atau pengajar yang menemani puluhan anak belajar. Antara lain Deviana Masyita, mahasiswi jurusan Administrasi Perkantoran Undip, kemudian Dwi Nurfatma, dan Novita Dwi Lokasari, pelajar kelas 12 SMA Semesta Semarang.

Dwi Nurfatma dan Novita Dwi Lokasari mengaku belum lama menjadi volunter di komunitas tersebut. Namun jiwa sosial keduanya untuk pendidikan perlu diapresiasi. Pasalnya, saat kondisi hujan, tak menghalangi niatnya untuk mengajar anak-anak. Apalagi keduanya nekat naik angkutan kota dari Kecamatan Gunungpati menuju Kelurahan Tambakrejo. Jaraknya tentu tidak dekat, melewati dua sungai besar di Semarang. Yakni Sungai Banjir Kanal Barat (BKB) dan Sungai Banjir Kanal Timur (BKT). “Saya belum lama bergabung menjadi volunter. Saya mulai bergabung dengan anak-anak disini dari browsing internet,” kata Dwi Nurfatma.

KST sendiri digawangi oleh alumni Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Enra Risti, mantan aktifis Forum Indonesia Muda (FIM). Dibentuk pada 30 Desember 2012 lalu, karena rasa prihatin atas beragam permasalahan sosial yang menimpa warga Kampung Tenggang, yang lokasinya tak jauh dari muara laut utara.