Sabar Hadapi Anak-Anak yang Terbiasa Bicara Kasar dan Kotor

Lebih Dekat dengan Komunitas Sahabat Tenggang (KST) Semarang

1070

“Awal berdirinya, saat FIM hendak mencari daerah di Semarang yang masih terdapat masalah sosial. Akhirnya, ketemu Kampung Tenggang ini. Tapi waktu itu, Enra Risti masih mahasiswi, kemudian dia dan teman-temannya sepakat mendidirkan komunitas ini,” kata Koordinator Bidang Humas KST Semarang, Dhiva Gustav Febyasto kepada Jawa Pos Radar Semarang, Senin (1/1) kemarin.

Komunitas yang memiliki basecamp di Jalan Tenggang RT 05 RW 07 Kelurahan Tambakrejo, Kota Semarang, usianya kini sudah genap lima tahun. Hampir tiap tahun melakukan rekrutmen volunter. Untuk kepengurusan tahun 2018 ini, ada 15 volunter, yang terdiri atas para mahasiswa dan pelajar SMA di Kota Semarang.

Fafa panggilan akrab Dhiva Gustav Febyasto mengungkapkan beberapa program belajar yang diberikan komunitasnya terhadap anak-anak di Kampung Tenggang. Di antaranya Rumah Belajar Impian (RUBI), Wisata Edukatif, Kelas Inspirasi, Kelas Komputer, dan perpustakaan Jurmi. Dari sekian program belajar tersebut, wisata edukatif paling diminati anak-anak, karena memberikan pelajaran di dalam ruang. Para pelajar diajak sesekali belajar sambil bermain di sekitar tambak. Ada juga outbond di beberapa tempat. Metode ini dianggap bagus, memberikan pengetahuan tentang alam.

“Tujuan awal program kami adalah untuk berbagi dengan adik-adik tentang pendidikan karakter yang baik . Bagaimana sopan santun yang baik dengan orang yang lebih tua dan lingkungan sekitarnya, ternyata anak-anak suka,” sebut mahasiswa semester tiga jurusan Public Relation (PR) Undip ini.

Dikatakannya, untuk RUBI, memberi wadah bagi anak-anak sebagai tempat belajar dan bermain lebih positif. Hal ini mengurangi kesempatan anak-anak bermain dengan aktivitas yang tidak jelas saat sore hari. Kegiatan rutin belajar dimulai setiap hari Senin dan Jumat pukul 16.00.

Diakuinya, banyak tantangan ketika mengajar anak-anak wilayah tersebut, karena lingkungan sosial yang berbeda dengan wilayah lain. “Banyak remaja putus sekolah dan suka judi. Sedangkan anak-anak suka bicara agak kasar dan kotor disini, makanya butuh kesabaran penuh. Komunitas ini, awalnya dulu dibentuk dan dikelola oleh FIM dan Sahabat Pulau, sama-sama organisasi yang fokus pada permasalahan sosial, terutama masalah pendidikan,” ungkapnya.